|
Dahulu, aku pikir hidup itu bisa dijalani dengan prinsip “asal bekerja keras,” “menjadi orang baik,” “terbuka pada orang lain,” adalah cara terbaik untuk mencapai cita-cita dan kehidupan seperti yang aku mau. Tapi kenyataannya, apa? Terlalu banyak kontradiksi dan realita yang tidak sesuai dengan harapan. Seberapapun kemampuan dan dedikasi yang kita berikan untuk ladang tempat kita bekerja, ladang tidak memberikan padi dan gandum terbaik seperti yang kuharapkan. Itikad baik dalam berbisnis dan berkeluarga, seringkali hanya dimanfaatkan mereka yang ingin mengambil keuntungan tidak adil dariku. Membuka diri melalui ekspresi asli di dunia nyata maupun dunia maya, akhirnya banyak menjadi kesempatan bagi banyak orang untuk memanfaatkan titik lemah diriku. Iya, dunia memang tidak berputar seperti apa yang kita mau, terlebih ketika kita sudah memasuki fase usia dewasa. Tidak ada lagi kebahagiaan yang lugu seperti di masa kecil kita dulu : Mengucapkan cita-cita ingin menjadi ini dan itu, tanpa memikirkan kesusahan dan konsekuensi yang kita dapatkan dari perjuangan kita menggapai cita-cita. Beberapa cita-cita sudah tercapai, namun diperoleh dengan kebingungan dan kegelisahan : Apa yang aku peroleh selama ini sudah benar? Apakah harus kehilangan teman dan keluarga bilamana aku menggapai cita-citaku dan tetap tampil menjadi diriku sebenarnya. Iya, sudahlah. Paling tidak, Tuhan, izinkan aku menjauhkan diriku dari realitas hidup, kebencian dan kedengkian hati orang di sekitarku, dan target-target yang dibebankan padaku, dengan menatap langit biru yang bermandikan cahaya matahari atau rintihan hujan yang jatuh ke bumi sambil menunggu matahari kembali muncul menyinari dunia. "Bahagia bukan tentang bagaimana cara kita menemukannya, tapi tentang cara kita menciptakannya sendiri." Picture Credit : @quby_starmoly Categories
0 Comments
Leave a Reply. |
Aditya RenaldiKolom tempat saya bercerita, mendongeng, berbagi. Tempat kita saling mengenal dan berkomunikasi. Archives
November 2025
Categories |