|
Ada saat dimana manusia memperoleh sesuatu yang sudah mereka angan – angankan sejak lama, dan terus mengulanginya hingga mereka tidak menemukan lagi rasa bahagia dan bersyukur atas sesuatu yang sudah mereka miliki. Dan hal itu kian menjadi – jadi di zaman ini, dimana manusia terus dibanjiri informasi dan iklan yang menampilkan gaya hidup berkilau sebagai tujuah hidup manusia. Dan, seiring sejalan dengan menguatnya pertumbuhan ekonomi pasar di sebuah negara, orang – orang yang disebut kelas menengah itu kian bertambah jumlahnya. Merekalah yang berperan terhadap meningkatnya konsumsi masyarakat sebuah negara, lalu memunculkan kultur konsumtif yang biasa kita saksikan di kehidupan kota – kota besar saat ini.
Terbiasa mendapatkan sesuatu dengan mudah dan banyak pilihan, membuat banyak orang, termasuk saya sendiri, mengalami degradasi rasa syukur. Rasanya, makanan restoran yang paling enak pun bisa saya sisakan tanpa perasaan bersalah, menggunakan gadget tidak maksimal namun terus menggantinya yang baru dengan alasan mengikuti tren dan teknologi terbaru, dan yang paling parah, tidak mensyukuri pekerjaan, keluarga, dan teman yang sudah dimiliki dengan susah payah. Selalu saja ada yang bisa disalahkan dan dikritik dari apa yang sudah Tuhan berikan pada kita, hingga kita tidak menyadari bahwa di luar sana ada banyak orang yang mengidamkan apa yang sudah kita peroleh saat ini. Ada makanan enak untuk dimakan, tapi lidah dan hati kita tidak bisa lagi merasakan betapa lezatnya makanan itu. Ada sekolah dan kampus sebagai tempat untuk belajar dan mencari persahabatan, tapi hati kita tidak cukup kuat untuk menjadi seorang pelajar yang aktif bersosialisasi dan tekun belajar. Ada keluarga dan rumah tempat kita pulang, tapi kita merasakan ketidakbebasan dari keluarga sendiri dan menginginkan hidup mandiri dari mereka. Ada banyak orang yang bisa dijadikan teman di tempat kerja, tapi kita memperlakukan mereka sebagai saingan bahkan musuh hingga tanpa disadari kita hanya mengejar keberhasilan karier pribadi. Ada gadget bagus yang bisa membantu pekerjaan dan kehidupan sehari – hari di saku, namun kita hanya menggunakannya untuk bermain dan menggantinya yang baru dengan cepat begitu saja hanya karena terbawa arus tren gaya hidup kosmopolitan. Dan, masih ada berapa banyak lagi nikmat Tuhan yang kita terima tanpa rasa syukur pada – Nya? Tidak akan pernah cukup disebutkan semuanya dalam secarik tulisan ini. Ironisnya, manusia kebanyakan itu justru menemukan arti dari karunia yang ia terima selama ini setelah ia mengalami kehilangan atas sesuatu atau seseorang yang selama ini disia – siakannya. Anak yang menyesali sikapnya terhadap orangtuanya yang baru meninggal, orangtua yang menyesali masa mudanya tidak dipakai untuk belajar dan bekerja sesuai dengan kemampuan yang bisa ia tunjukkan pada masa mudanya, hedonis yang menyesali perbuatan liarnya di masa lalu kemudian hendak berniat menjadi orang baik – baik dan ingin kembali dekat pada Tuhan, saudagar yang menyesal karena jatuh miskin akibat menjalankan praktek bisnis yang tidak etis dan tertangkap oleh karena perbuatannya sendiri, itu hanyalah sebagian kecil dari contoh akibat tidak adanya lagi rasa bersyukur terhadap apa yang sudah manusia miliki. Ironisnya, itulah kenyataan yang biasa terjadi dalam kehidupan sehari – hari manusia. Dan, manusia tidak akan pernah tahu seperti apa penyesalan itu apabila mereka tidak mengalaminya sendiri. Manusia itu, walaupun sudah diberi tahu akan bahaya yang muncul dari perilaku mereka sendiri, tetap akan melakukan perbuatan dosa untuk merasakan sendiri betapa pedihnya penyesalan, dan betapa berartinya sesuatu yang sudah mereka miliki untuk mereka syukuri.
0 Comments
Tulisan ini saya ketik ketika saya berada dalam kondisi lelah, lelah secara fisik maupun secara hati dan kejiwaan, meski tidak sampai pada titik keputusasaan. Pekerjaan sehari – hari saya sebagai pegawai bandara yang membidangi pelatihan, itulah sumber kelelahan terbesar saya pada saat ini.
“Tapi, bukankah itu memang pekerjaanmu? Seharusnya kamu menjalankannya dengan kerja keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas?” Tentu saja pertanyaan di atas adalah kalimat yang umumnya akan dikatakan orang di sekitar saya yang mengeluhkan rasa lelah saya, dan itu adalah pertanyaan yang wajar keluar dari mulut mereka. Namun, bukankah kelelahan adalah sesuatu yang manusiawi muncul dari seorang manusia? Ia pasti muncul dalam setiap benak manusia, walau hanya sesaat dan hinggap pada orang yang di dalam kehidupan sosialnya dianggap selalu ceria dan tegar. Jika saya merasa lelah secara fisik, itu bukan sesuatu yang perlu saya keluhkan, karena semua orang pasti akan mengalaminya karena energi manusia itu ada batasnya dan perlu “diisi ulang” dengan makan dan istirahat. Tapi jika yang lelah adalah hati dan jiwa, tentu ceritanya menjadi berbeda. Rasa lelah semacam ini tidak akan hilang hanya dengan makan, minum, tidur, relaksasi, dan (mungkin juga) rekreasi. Ia datang karena adanya kesadaran bahwa ada sesuatu yang kurang dari apa yang sudah saya peroleh, setidaknya itu menurut pandangan saya secara pribadi. Bagaimana kelelahan hati dan jiwa ini hinggap pada saya? Mungkin ada baiknya kalau saya kembali pada memori tiga tahun silam. Saya masih mengingat tiga tahun lalu, ketika saya mendapat informasi penerimaan pegawai baru di perusahaan bandara tempat saya bekerja sekarang. Itu terjadi di tengah – tengah susahnya saya mencari pekerjaan formal pertama saya. Ya, waktu itu saya masih bekerja sebagai penulis freelance dengan penghasilan yang tentu saja, untuk makan sebulan pun tidak cukup. Saya tidak menyia – nyiakan kesempatan itu dengan bantuan orangtua saya (yang sejak awal memang lebih menyukai saya bekerja di Perusahaan Milik Negara daripada Perusahaan Swasta atau bekerja mandiri sebagai freelancer). Mulai saat itu, saya pelan – pelan mengesampingkan idealisme keinginan bekerja secara mandiri sebagai freelancer ataupun pengusaha kecil dan sungguh – sungguh mengejar cita – cita baru yang belum pernah terpikirkan (dan sebenarnya memang tidak pernah saya impikan), menjadi pegawai bandara udara. Dimulai pada bulan dimana saya berulang tahun yang ke dua puluh tujuh, saya melakukan tes demi tes untuk memperoleh pekerjaan ini. Mulai dari tes Bahasa dan Matematika Dasar, berlanjut ke tes Psikologi dan penelusuran minat dan bakat, kelompok diskusi, sampai uji kemampuan Bahasa Inggris dan wawancara tahap akhir, hingga akhirnya di awal tahun kemudian, saya diumumkan diterima sebagai calon pegawai Bandara. Tentu saja sebagai seseorang yang awalnya tidak bercita – cita menjadi pekerja di industri jasa berskala besar, saya merasakan kebahagiaan yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Anda tahu apa yang saya idealkan ketika saya memulai pekerjaan saya sebagai pegawai kantoran, pegawai kantoran di bandara udara? Menjadi pegawai yang bekerja dengan bersih, disiplin pada peraturan perusaahaan dan patuh pada perintah atasan, memiliki atasan yang bijaksana dan rekan kerja yang ramah dan kooperatif, dan tentu saja membangun jenjang karier sendiri layaknya pegawai muda yang baru pertama kali bekerja. Namun, apa yang terjadi setelah melalui dua setengah tahun menjadi pegawai bandara? Idealisme – idealisme masa muda menjadi seorang pegawai kantoran itu, perlahan – lahan semakin kabur dari benak saya. Menyaksikan realitas di dunia kerja yang tidak sesuai dengan idealisme dan harapan, bahkan visi dan misi perusahaan itu sendiri menjadi sesuatu yang biasa saya alami. Prosedur dan standar kerja yang sudah ditetapkan perusahaan (dan tentu saja selalu di – update secara periodik) seringkali hanya menjadi buku manual yang diabaikan, tidak jarang saya harus melakukan pekerjaan dengan melanggar prosedur karena tuntutan atasan dan rekan kerja yang tidak mau tahu proses kerja yang saya lalui asalkan hasil pekerjaan sesuai harapan mereka. Belum lagi menghadapi rekan kerja dari unit sendiri maupun unit lain yang tidak kooperatif bahkan cenderung ingin menjatuhkan sesama rekan kerja, menghadapi klien yang hanya mengejar keuntungan sendiri, egoisme rekan – rekan kerja dari kantor cabang, kecenderungan mengambil keuntungan pribadi dari perusahaan yang tampak dari perilaku beberapa rekan kerja, dan tentu saja : Kebijakan atasan yang sewenang – wenang, tidak peduli nasib anak buah asalkan misinya berhasil. Untuk poin terakhir, tidak jarang saya melihat (dan akhirnya mengalami sendiri) anak buah yang mentalangi biaya untuk sebuah atau beberapa proyek pekerjaan sementara sang bos tetap berusaha menghindari pengorbanan pribadi untuk proyek yang dicetuskannya sendiri. Dari situlah kelelahan hati dan jiwa saya sebagai pegawai bandara berasal. Perlahan – lahan saya mulai mempertanyakan kembali, apa arti idealisme sebagai pegawai negara yang selama ini saya perjuangkan? Mengapa saya harus terus mengulangi kesalahan – kesalahan yang disengaja demi tercapainya suatu pekerjaan? Benarkah persahabatan dalam dunia kerja itu eksis? Apakah saya harus terus memasang senyum dan keramahan palsu demi menutupi rasa kecewa pada atasan dan rekan kerja? Haruskah saya membiarkan keramahan palsu dan sikap membenarkan kesalahan terus terjadi di depan mata saya? Masih banyak pertanyaan – pertanyaan tak terjawab yang eksis karena hasil dari apa yang saya lalui selama bekerja di perusahaan negara penyedia jasa bandara ini. Sayangnya, saya bukan manusia yang cukup optimis bahwa semua kesalahan yang terjadi dalam dunia kerja ini adalah sesuatu yang bisa diperbaiki, tidak peduli bagaimanapun caranya, melalui cara yang moderat atau pun cara yang revolusioner. Bahkan jika saya melakukannya secara kolektif, bekerjasama dengan rekan kerja yang memiliki kesamaan idealisme dengan saya, saya tidak yakin berada pada posisi pemenang, karena ini adalah masalah budaya masyarakat yang masuk ke dalam budaya perusahaan, bukan budaya perusahaan semata. Selama kultur berpura – pura dan memandang sesuatu yang tampak dari luar lebih penting daripada memahami sesuatu secara mendalam masih dianut banyak orang di masyarakat ini, saya tidak bisa cukup optimis agar revolusi yang saya cita – citakan dari idealisme awal itu dapat terwujud. Meskipun begitu, saya tidak merasa bahwa saya harus mundur dari perusahaan bandara tempat saya bekerja sekarang. Itu bukanlah opsi bagi saya, karena mencari tempat bekerja yang lain demi membangun asa dan idealisme dari awal lagi belum tentu bisa terwujud, selama karakter sosiologis orang – orang tempat saya berada sekarang, masih seperti itu – itu juga. Saya masih memegang ide bahwa berpindah tempat atau melarikan diri bukanlah solusi untuk menemukan apa yang saya cari. Setidaknya, itu yang masih saya percaya saat ini untuk menjaga asa dan moral agar saya tetap memiliki alasan untuk terus bekerja menjadi pegawai bandara. Saya juga paham, bahwa apa yang saya alami ini belumlah berarti apa – apa jika dibandingkan dengan rekan senior saya yang saya lihat, mengalami nasib yang sama seperti yang saya alami. Saya tidak bisa terus meratapi dan menyesali keadaan ini terus, yang bisa saya lakukan hanya terus bekerja dan memenuhi tanggung jawab sesuai kapasitas saya sebagai pegawai bandara dari unit pelatihan. Unit tempat saya bekerja, memang didesain sebagai unit untuk mengajar dan mengembangkan pegawai lain, dan seharusnya juga bisa menjadi tempat bagi saya sendiri untuk belajar dan tumbuh berkembang semakin dewasa, baik sebagai pekerja maupun sebagai manusia. Kini, di usia dua setengah tahun karier saya sebagai pegawai bandara, saya mulai mencoba bersikap lebih pragmatis dari luar, walaupun dalam hati saya tetap berusaha menjaga asa untuk teguh pada idealisme dasar saya yang sudah saya tanamkan sejak memulai karier saya disini. Idealisme untuk menjadi pekerja yang ulet, disiplin, tangguh, loyal pada tujuan dan misi, tidak mudah goyah oleh keadaan, dan yang terpenting, tetap kuat menjalankan pekerjaan walaupun mendapat tekanan dari rekan kerja sendiri, atasan, bahkan klien. Ketidaksesuaian realita dengan idealisme yang saya peroleh memang menyakitkan hati dan sempat meremukkan asa saya, tetapi idealisme saya tidak akan hilang tanpa bekas hanya karena itu. Saya percaya walau hidup itu penuh dengan paradoks antara idealisme dengan realita, itu bukanlah wujud dari kekalahan saya. Sebaliknya, saya benar – benar kalah apabila saya menjadi sama dengan mereka yang membuat perusahaan ini menjadi penuh kesalahan prosedur, kepura – puraan, dan kekacauan. Mungkin, saat ini, mereka akan melihat saya terlihat serupa dan tunduk pada kultur kerja mereka, tapi di dalam, saya tetaplah saya yang dulu, yang masih setia pada idealisme untuk menjadi pekerja sekaligus manusia yang “baik.” Terakhir, saya meyakini bahwa memang inilah jalan yang harus saya lalui sebagai pekerja ataupun sebagai manusia, dan saya rasa itu cukup untuk membuat saya menemukan apa sesungguhnya arti di balik kalimat “kemuliaan melayani” yang menjadi tagline perusahaan bandara tempat saya bekerja disini. Media sosial yang sepuluh tahun lalu bukan sesuatu yang saya gunakan, sekarang telah menjadi semacam kebutuhan sekunder bagi saya. Rasanya tidak mungkin bagi saya untuk eksis atau dikenal orang di dunia nyata, tanpa bantuan media sosial. Pendapat yang sama, mungkin juga ada dalam benak Anda, yang memiliki Facebook, Twitter, Instagram, Path, Google Plus, dan lain sebagainya.
Saya masih mengingat, saya mulai menggunakan media sosial sekitar sepuluh tahun yang lalu, tepatnya ketika saya masih mahasiswa tahun kedua. Media sosial yang pertama saya miliki adalah Friendster. Dua tahun kemudian berlalu, Facebook yang tengah populer untuk semua kalangan di saat ini pun saya coba, dan sejak saat itulah saya mulai antusias menggunakan media sosial untuk mengekspresikan diri saya di jagat dunia maya, mulai dari kesukaan saya terhadap budaya populer Jepang hingga pendapat pribadi saya tentang kehidupan sosial saya. Satu tahun kemudian, saya mulai aktif bermain di Twitter. Dan selanjutnya, ketika saya mulai memegang laptop mutakhir dan smartphone, saya mencoba memiliki media sosial lebih banyak lagi : Instagram, Path, Vine, Linkedin, dan Steller. Ketika saya sudah bermain media sosial, saya seperti sudah menemukan dunia saya yang sesungguhnya. Media sosial menjadi tempat dimana saya bisa mengekspresikan sesuatu yang enggan atau tidak bisa saya keluarkan di dunia nyata, tanpa batas etika dan norma lagi. Mungkin tidak masalah jika saya mempublikasikan foto – foto atau ilustrasi hasil goresan tangan saya, namun saya juga sadar bahwa saya terlalu banyak mengungkapkan hal – hal yang tidak seharusnya diketahui orang lain seperti pendapat personal, masalah hubungan sosial, pandangan tentang ideologi suku dan agama, atau hal – hal pribadi yang kalau diketahui teman dan pengikut saya sendiri justru merusak hubungan saya dan mereka. Perubahan diri saya sejak mengenal media sosial, tidak hanya ada pada hubungan sosial saya di kehidupan nyata. Minat saya pada membaca dan menulis, perlahan tapi pasti menurun hingga untuk mengetik puisi sepuluh bait saja saya merasa tidak punya ide. Dahulu, ketika saya hanya menggunakan Facebook, Twitter, dan Wordpress, dampak media sosial terhadap keterampilan menulis dan ketekunan membaca saya tidak begitu besar, justru saya amat sering membuat catatan/blog terkait pada saat itu. Saya baru merasakan malasnya menulis dan membaca ketika memegang smartphone dengan berbagai aplikasi – aplikasi media sosial yang menampilkan fitur memamerkan foto dan kicauan hati belaka seperti Instagram dan Path. Aplikasi media sosial seperti itu memang mudah digunakan dan mampu menampilkan Ekspresi penggunanya dengan praktis, tidak perlu banyak berpikir. Cukup dengan memasang foto disertai dengan keterangan singkat (caption), teman akan segera bisa melihat posting apa yang kita publikasikan. Ditambah dengan fitur like untuk mengekspresikan rasa suka pada foto dan tulisan singkat tersebut, semua pengguna seakan kecanduan untuk mendapatkan like sebanyak – banyaknya dari teman mereka sendiri. Media sosial agaknya berhasil membuktikan, bahwa untuk mendapat pengakuan sosial dalam pergaulan bukan hal yang sulit, meskipun itu hanya pengakuan belaka sesaat yang akan segera dilupakan oleh mereka. Bagi sebagian pengguna media sosial yang lain, media sosial juga mengubah kondisi fisik dan psikologis mereka. Ada yang jam tidurnya berkurang karena sebelum tidur dan pada saat bangun langsung bereaksi membuka media sosial, ada yang ritme pekerjaannya jadi terganggu karena media sosial menimbulkan distraksi pada saat dia bekerja, ada yang pola makannya menjadi buruk karena terlalu sibuk membuka media sosial atau justru mengikuti tren kuliner yang sedang popular di media sosial, ada anak yang merasa kurang diperhatikan orangtuanya yang keranjingan media sosial, bahkan ada yang merasa kehilangan arti hidup tanpa menjaga eksistensi di media sosial. Berapa banyak pengorbanan sia – sia yang muncul akibat dari kecanduan media sosial? Saya sudah tidak bisa menghitung berapa kerugian waktu, uang, tenaga, dan pikiran yang sia – sia oleh kesukaan saya pada media sosial. Celakanya, bagi saya sendiri, melepaskan diri dari kecanduan media sosial bukan hal yang bisa dilakukan beberapa hari saja, karena ketika saya memutuskan untuk berhenti dari salah satu media sosial (ex : Facebook), justru saya menemukan kesenangan bermain pada media sosial yang lebih baru. Tidak jarang, saya menunda pemberhentian satu akun media sosial karena adanya dorongan dari teman kerja dan keluarga agar saya tidak meninggalkan media sosial tersebut. Dengan begitu, jelas terlihat media sosial kini seakan menjadi alat untuk menjamin eksisnya hubungan sosial antar individu di dunia nyata. Berdasarkan pengalaman pribadi saya tentang kecanduan media sosial, ditambah cerita dan pengalaman dari orang di sekitar saya yang juga menunjukan adanya gejala kecanduan sosial, penyakit psiko – sosiologis ini menimbulkan dampak pada penderitanya sepertri berkurangnya kemampuan berpikir, perilaku narsistik atau terobsesi pada diri sendiri, dan kecemburuan sosial. Penderita kecanduan sosial, seperti yang telah saya alami sendiri, umumnya menjadi enggan berpikir kritis karena sudah sangat terbiasa menyerap informasi yang muncul begitu saja dari media sosial. Sudah banyak contoh kasus media sosial digunakan orang – orang yang tidak bertanggung jawab seperti informasi palsu, berita yang kebenarannya disembunyikan dan ditutupi dengan kebohongan yang seolah – olah nyata (hoax), fitnah dengan menggunakan sentiment suku ras dan agama (SARA), dan celakanya banyak pengguna media sosial yang langsung terpengaruh dengan berbagai bentuk informasi salah itu. Media sosial yang memang sejak awal diciptakan untuk memamerkan diri sendiri pada orang lain juga memunculkan perilaku narsis bagi penggunanya. Apa saja bisa dipamerkan di media sosial : Makanan dan minuman, pertemuan dengan kekasih baru, kegiatan berkumpul dengan banyak teman dan/atau keluarga, mobil dan motor baru, foto hasil kunjungan wisata di suatu tempat, bahkan kegiatan ibadah pada Tuhan pun bisa menjadi bahan untuk mendapat predikat like dari teman kita sendiri. Di satu sisi, bagi sebagian pengguna media sosial yang lain, ajang pamer di media sosial menjadi alasan mengapa mereka menyimpan rasa cemburu dan dengki, entah karena mereka sendiri tidak punya kesempatan atau kemampuan untuk memiliki hal yang dipamerkan tersebut. Efeknya memang bisa berpengaruh pada pergaulan di kehidupan nyata, hingga sesama pengguna media sosial yang awalnya bersahabat baik menjadi dingin satu sama lain karena konflik di media sosial. Bagaimana gejala kecanduan sosial itu ada pada seseorang, kita bisa memperhatikan perilaku diri kita sendiri atau orang di sekitar kita dengan indikasi perilaku seperti ini :
Apapun sikap kita terhadap media sosial, semoga kita tetap menjadi manusia yang mampu memanusiakan diri kita sendiri dan manusia lain, dan lebih cerdas dalam menggunakan teknologi sebagai alat untuk membangun komunikasi dan kehidupan sosial kita. Selamat mencoba. Tuhan, aku percaya Engkau pasti membaca tulisan yang kubuat dalam catatanblog ini, dan aku yakin Engkau pun memahami diriku yang sesungguhnya sebagai salah satu dari manusia ciptaan-Mu. Tuhan, seluruh manusia pada dasarnya memiliki naluri untuk menyadari eksistensi-Mu, mengakui-Mu, dan beriman pada diri-Mu, tetapi mengapa Engkau menciptakan kami dalam perbedaan agama? Mengapa Engkau menciptakan manusia yang lahir dan tumbuh dengan agama dan keyakinan berbeda, ada pula manusia yang meyakini eksistensi-Mu namun memilih untuk tidak memeluk agama apapun, atau bahkan memilih untuk tidak mengakui eksistensi-Mu dan tidak memeluk agama apapun, yang pada akhirnya menimbulkan konflik tak berkesudahan diantara sesama umat manusia? Tuhan, aku telah melihat dengan mata kepalaku sendiri di dunia nyata ini, bahwa ada begitu banyak manusia yang menspesialisasikan dirinya sendiri dengan menggunakan agama yang diyakininya bersama dengan umatnya, hingga melakukan intimidasi dan diskriminasi terhadap manusia lain yang tidak dapat atau tidak berkehendak untuk mengikuti jalan yang dijanjikan agama mereka. Celakanya, dalam satu umat beragama yang sama, satu perbedaan kecil antara manusia yang satu dengan manusia yang lain dari agama yang sama dapat menimbulkan konflik dan pengucilan satu sama lain diantara keduanya. Tuhan, aku tidak tahu entah ada sekian banyak konflik yang dilakukan manusia dengan menggunakan nama-Mu, tapi aku tahu, bahwa akan terus ada manusia yang melakukan konflik ini atas nama diri-Mu dengan menggunakan agama yang beragam dan keyakinan yang berbeda-beda pula. Sungguh, agama telah banyak dianggap menjadi salah satu faktor yang menciptakan konflik antar umat manusia, selain suku, ras, gender, negara, budaya, ilmu, ekonomi, dan ideologi. Tuhan, apakah ini memang kehendak dari-Mu? Betapapun banyak dan kroniknya konflik atas nama keyakinan bernama “agama” yang dilakukan manusia-manusia ciptaan-Mu, aku masih tetap meyakini, bahwa sesungguh-Nya Engkau telah merencanakan yang terbaik untuk umat manusia. Tuhan, aku percaya bahwa sesungguhnya Engkau menciptakan manusia itu sama, namun apakah benar bahwa kemuliaan dan kebaikan manusia dinilai berdasarkan agama yang mereka yakini? Apakah seorang manusia dosa jika ia dilahirkan dari orangtua yang memeluk satu agama yang manusia lain anggap adalah agama yang salah, sementara ia tidak mengetahuinya? Aku percaya bahwa Engkau mustahil bersifat rasis dan diskriminatif, seperti halnya yang dilakukan manusia-manusia ciptaan-Mu di dunia nyata ini. Apakah kemuliaan manusia diukur dengan mengikuti agama secara fanatik tanpa toleransi, yang kemudian membentuk sektarianisme, lalu melakukan tindakan rasisme pada pemeluk agama dan kepercayaan lain? Tuhan, aku mengerti, bahwa dengan segala keterbatasaan yang kumiliki, aku tidak akan menemukan jawaban yang memuaskan diriku, namun aku percaya pada-Mu, bahwa apa yang terjadi pada umat manusia dengan konflik atas nama keyakinan pada diri-Mu yang berbeda adalah warna lain dari kehidupan dan peradaban manusia, yang tujuannya hanya dapat diketahui-Mu. Mungkin apa yang kusaksikan pada kehidupan ini adalah jawaban dari-Mu untuk pertanyaanku yang ada pada catatan ini.
Menikah adalah salah satu bagian terpenting dari hidup manusia, dan menjadi wujud dari kebutuhan manusia akan seks dan sosialisasi dengan manusia lain. Pernikahan, seperti yang didefinisikan Duvall dan Miller (1986), adalah hubungan antara pria dan wanita yang diakui masyarakat yang melibatkan hubunagn seksual, dan didalamnya ada penguasaan dan hak mengasuh anak disertai dengan saling mengetahui tugas masing – masing antara suami (pria) dan istri (wanita). Yang membedakan pernikahan dengan hubungan pria – wanita di luar itu adalah, adanya ikatan lahir dan batin antara pria dan wanita yang memiliki satu tujuan yang sama, yaitu membentuk keluarga yang bahagia dan kekal, dilandasi dasar keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa (Munandar, 2001).
|
Aditya RenaldiKolom tempat saya bercerita, mendongeng, berbagi. Tempat kita saling mengenal dan berkomunikasi. Archives
November 2025
Categories |