|
Adalah sebuah pelajaran hidup yang amat berarti, kalau apa yang kita impikan tidak semuanya baik buat kita, dan tidak semuanya terwujud persis seperti yang kita mau, akan tetapi disitulah nikmatnya hidup menjadi diri sendiri. Mungkin ketika kita masih kecil, semua mimpi terlihat manis dan mudah diraih karena dukungan keluarga kita. Namun seiring waktu berjalan dan memasuki fase usia dewasa, akan tampak wajah asli keluarga dan orang terdekat kita, yang ternyata tak semuanya mendukung, malah ada yang menghalangi perjalanan menuju mimpi kita. Ya, memang miris, tapi itulah realitas hidup di umur dewasa, yang di satu sisi membuat kita menjadi lebih kuat dan mandiri sebagai manusia. Biarlah berjuag sendiri, tapi setidaknya jangan menjadi beban hidup keluarga atau memiliki hutang-piutang kepada saudara sendiri. Menang tanpa menyoraki orang lain, menerima tapi bukan berarti pasrah menyerah. Berdiri di atas kaki sendiri, menolong khlas tanpa hasrat menjadi pahlawan, melaju di jalur menuju garis finish yang kuyakini, dan kutahu yang kumau untuk kemudian aku terus berusaha mencapainya. Iya, menjadi dewasa memang rumit, tidak seperti yang dibayangkan pada saat masa kecil kita : Semua yang kita imajinasikan di masa kecil akan berjalan dengan lancar dan berhasil. Namun kenyataannya, ada banyak hal rumit yang harus kita selesaikan dan lalui untuk mencapai tujuan yang kita mau, atau malah kita tidak mendapatkan mimpi masa kecil kita itu sama sekali. Akan tetapi, kehidupan dewasa juga memberikan kebahagiaan yang tidak pernah terimajinasikan dalam masa kecil kita : Pertemanan dengan orang tak terduga, pertemuan dengan orang yang paling memahami dan menerima diri kita, eksplorasi ke tempat tujuan baru, menemukan kampung halaman baru, Cerita perjalanan hidup ini, masih belum selesai. Categories
0 Comments
Telah terlewati satu tahun 2025 dengan segala kesulitan dan tantangan yang kuhadapi, namun tahun 2025 juga kulalui dengan banyak berkah tak terduga, baik yang datang dari hasil perjuangan yang kunantikan hasilnya maupun datang dari hal-hal yang tak kuduga sebelumnya. Dan tak terasa, bahwa di saat ini umurku telah mencapai penghujung usia kepala tiga, usia kematangan, kedewasaan. Belum layak disebut tua, namun juga sudah melewati usia muda apalagi remaja. Kata mereka, hidup sesungguhnya dimulai pada usia kepala empat. Selama Tuhan masih memberiku umur dan kekuatan untuk berjuang, maka aku tidak punya pilihan selain terus melangkah untuk menyongsong tantangan dan memperjuangkan harapan di tahun 2026 yang baru saja tiba. Selamat tinggal tahun 2025, dan selamat datang tahun baru 2026. Tak perlu berharap muluk-muluk di tahun yang baru, lanjutkan perjuangan yang masih berjalan dari tahun-tahun sebelumnya. CategoriesDahulu, aku pikir hidup itu bisa dijalani dengan prinsip “asal bekerja keras,” “menjadi orang baik,” “terbuka pada orang lain,” adalah cara terbaik untuk mencapai cita-cita dan kehidupan seperti yang aku mau. Tapi kenyataannya, apa? Terlalu banyak kontradiksi dan realita yang tidak sesuai dengan harapan. Seberapapun kemampuan dan dedikasi yang kita berikan untuk ladang tempat kita bekerja, ladang tidak memberikan padi dan gandum terbaik seperti yang kuharapkan. Itikad baik dalam berbisnis dan berkeluarga, seringkali hanya dimanfaatkan mereka yang ingin mengambil keuntungan tidak adil dariku. Membuka diri melalui ekspresi asli di dunia nyata maupun dunia maya, akhirnya banyak menjadi kesempatan bagi banyak orang untuk memanfaatkan titik lemah diriku. Iya, dunia memang tidak berputar seperti apa yang kita mau, terlebih ketika kita sudah memasuki fase usia dewasa. Tidak ada lagi kebahagiaan yang lugu seperti di masa kecil kita dulu : Mengucapkan cita-cita ingin menjadi ini dan itu, tanpa memikirkan kesusahan dan konsekuensi yang kita dapatkan dari perjuangan kita menggapai cita-cita. Beberapa cita-cita sudah tercapai, namun diperoleh dengan kebingungan dan kegelisahan : Apa yang aku peroleh selama ini sudah benar? Apakah harus kehilangan teman dan keluarga bilamana aku menggapai cita-citaku dan tetap tampil menjadi diriku sebenarnya. Iya, sudahlah. Paling tidak, Tuhan, izinkan aku menjauhkan diriku dari realitas hidup, kebencian dan kedengkian hati orang di sekitarku, dan target-target yang dibebankan padaku, dengan menatap langit biru yang bermandikan cahaya matahari atau rintihan hujan yang jatuh ke bumi sambil menunggu matahari kembali muncul menyinari dunia. "Bahagia bukan tentang bagaimana cara kita menemukannya, tapi tentang cara kita menciptakannya sendiri." Picture Credit : @quby_starmoly Categories |
Aditya RenaldiKolom tempat saya bercerita, mendongeng, berbagi. Tempat kita saling mengenal dan berkomunikasi. Archives
November 2025
Categories |