|
Manusia itu menempuh hidupnya tidak hanya sekedar untuk “bertahan hidup,” manusia itu eksis dengan berbagai alasan, tujuan, dan kegunaan yang memberinya arti untuk manusia lain. Oleh karena itu, manusia terlahir dan kemudian berkembang dengan menumbuhkan cita – citanya sendiri. Pada masa kecilnya, manusia yang baru memasuki masa perkembangan menjadi “manusia yang sesungguhnya,” mengenal dan mempelajari profesi dari sosok – sosok yang lebih dewasa darinya yang ia kenal di lingkungannya. Ia mengetahui dan mempelajari seperti apa seorang guru, dokter, pilot, arsitek, penulis, ilmuwan, jurnalis, dan lain sebagainya bekerja, kemudian ia mengembangkan minat terhadap salah satu atau beberapa profesi tersebut sesuai ego pribadinya. Masalah muncul ketika manusia mengalami pengenalan dengan berbagai manusia lain denga latar belakang berbeda – beda, pengalaman baru, dan kenyataan akan cita – cita yang akan direngkuhnya sendiri. Ada yang tetap konsisten untuk berusaha menggapai cita – citanya, ada yang gamang, dan ada pula yang memilih untuk mundur dari cita – citanya. Tidak masalah bagi yang memutuskan tetap berada pada jalurnya atau memilih pilihan pertama, tapi tidak akan mudah bagi yang mengambil pilihan kedua apalagi ketiga. Kenyataannya, berada pada “pilihan tengah” atau memilih mundur dari cita – cita, menimbulkan konsekuensi yang tidak mudah bagi kebanyakan manusia. Memutuskan mundur dari cita – cita awal memunculkan kerentanan diri pada manusia terhadap kondisi menggantung, seperti kapal laut yang berada di tengah – tengah samudera dan tersesat kehilangan arah untuk melanjutkan berlayar ke mana. Jika manusia tidak berusaha untuk menemukan cita – cita lain yang membuatnya bergairah dalam hidup, maka ia pun akan menjadi seperti kapal itu : Terombang – ambing hanya bergantung pada ke mana ombak dan angin membawanya terdampar di pulau yang tidak diketahui oleh nahkodanya sendiri. Mungkin manusia yang berada dalam kebingungan itu tidak merasakan frustrasi atas ketidakmampuannya menemukan cita – citanya sendiri, namun jelas bahwa ia kurang berhasil dalam menggunakan hidupnya sebaik – baiknya ia bisa. Ia berada dalam keadaan yang merugi, namun tidak merasa merugi. Mungkin ia tidak merasa perlu dikasihani, tapi sesungguhnya amat disayangkan keadaannya dan kepasrahannya yang tidak diletakkan pada tempatnya. Kepasrahan diri memang diperlukan dalam hidup, namun pantas jika dilakukan oleh manusia yang sudah berusaha sekeras, sekreatif, dan seikhlas mungkin, bukan oleh manusia yang sesungguhnya masih punya potensi untuk menggapai cita – cita namun membiarkan dirinya jatuh begitu saja dalam kebingungan. Oleh karena itu, kepastian dalam membuat cita – cita dalam hidup, seharusnya menjadi sesuatu yang perlu diprioritaskan oleh siapapun juga. Manusia memang hidup dalam ketidakpastian, namun betapapun ketidakpastian melanda kehidupan, manusia seharusnya mampu menetapkan dan mengukur cita – cita dalam hidupnya, agar hidupnya tidak menjadi sekedar angin lalu bagi manusia lain dan semesta dunia ini. Ia harus mengetahui, belajar, dan berusaha untuk memahami bahwa jatah hidup yang Tuhan berikan padanya untuk dipergunakan sebaik – baiknya dengan memastikan cita – cita apa yang ingin ia rengkuh dan bagaimana ia menggunakan cita – citanya untuk memberikan sesuatu kepada sesama manusia di sekitarnya. Kepastian akan cita – cita, itulah sebenar – benarnya alasan bagi manusia untuk hidup. Categories
0 Comments
|
Aditya RenaldiKolom tempat saya bercerita, mendongeng, berbagi. Tempat kita saling mengenal dan berkomunikasi. Archives
November 2025
Categories |