|
Dalam keseharianku, dalam kehidupan sosialku yang berjalan normal layaknya orang Jakarta biasa yang menjaga kemakmuran hidup dengan bekerja sebagai pegawai kantoran, aku selalu berusaha untuk tampak tidak berbeda dengan mereka yang ada di sekitarku : Bersikap baik – baik, selalu berusaha mengikuti adat – istiadat setempat, lurus sesuai aturan, dan tampak normatif, walaupun di dalam keramaian aku memilih untuk bersikap tenang dan agak menarik diri.
Normatif, bagian inilah yang paling penuh kepalsuan dari diriku sendiri. Normatif dalam banyak hal, termasuk di dalamnya bersikap normatif dalam menjalankan perintah agama. Di negeri tempat aku tinggal saat ini, sedang terjadi proses perubahan budaya yang menjurus pada religiusasi dalam hampir semua hal, sesuatu yang tampak gemerlap dan menjanjikan surga bagi para penganut agama, termasuk aku. Sayangnya, aku tidak melihatnya demikian, karena justru religiusasi negeri ini memunculkan masalah eksklusivisme bagi agama mayoritas dan diskriminasi terhadap kaum penganut agama minoritas atau mereka yang memilih untuk tidak menganut agama apapun. Ironisnya, ini terjadi di negeri yang selalu mengagungkan semboyan penyatuan perbedaan – perbedaan identitas dalam satu kesatuan berbangsa dan bernegara. Bagi kebanyakan orang, seperti mereka yang berada di sekitarku, yang mengisi pengalaman pribadi dan sosialku, mengikuti religiusasi adalah jalan yang paling mudah untuk mereka lalui, agar mereka mendapat penerimaan sosial dimana saja mereka berada. Mungkin tidak semua dari mereka ikhlas dan serius melalui jalan religiusasi bangsa ini, aku yakin dan sudah menyaksikan sendiri beberapa diantaranya, tetapi aku tidak meyakini bahwa mengikuti jalan orang lain karena untuk penerimaan sosial belaka adalah jalan hidup yang sesuai dengan hati maupun nalar berpikirku. Untuk apa menjadi sama dengan orang lain? Sekitar sepuluh tahun lalu dan lebih jauh lagi sebelum itu, aku masih belum paham apa – apa tentang agama dan esensinya dalam kehidupan manusia. Aku masih sama seperti mereka yang memilih untuk bersikap normatif pada agama, walaupun aku juga tidak bisa dikatakan sangat taat pada ajaran agamaku. Aku hanya taat dalam menjalankan ritual ibadah lima waktu, ditambah dengan membaca kitab suci paling tidak satu ayat dalam sehari. Aku terus mengikuti ritual agama yang relatif sederhana dibandingkan mereka yang mengaku taat pada agamanya itu, sampai perjalanan hidup yang baru membawaku melanjutkan pendidikan di Yogyakarta. Berbeda dengan di Bandung tempat aku tinggal sebelumnya, Yogyakarta adalah kota yang bukan didominasi satu suku, agama, ras, bahkan bangsa tertentu, walaupun dari sisi kuantitas, mayoritas itu tetap ada. Keberagaman dalam kota yang disebut pusat pendidikan dan kebudayaan di Indonesia inilah, yang membentuk Yogyakarta sebagai kota yang menjadi favorit persinggahan banyak orang untuk belajar, melancong, dan bahkan bertempat tinggal. Cerita berlanjut, pertemuanku dengan mahasiswa, pengajar, atau masyarakat umum dari berbagai kalangan di Yogyakarta, perlahan membuatku menyadari, bahwa ada sesuatu yang sejak dulu aku dambakan namun tidak terpikirkan untuk aku cari : Perdamaian dalam keberagaman. Aku hampir tidak melihat adanya jarak pergaulan antar manusia di sana, meski mereka memiliki identitas suku, ras, dan agama yang berbeda, atau latar belakang, sudut pandang pemikiran, dan keyakinan yang berbeda. Citra kota kecil ini sebagai kota pendidikan memang membuat pelajar – pelajar dan pengajarnya menjadi berpikiran lebih terbuka terhadap ilmu pengetahuan dan perkembangannya, dan kebebasan dalam menjelajahi cakrawala berpikir itu yang bagi sebagian di antara mereka, menjadi lubang untuk memasuki cakrawala baru dan menemukan ide – ide yang sebelumnya dianggap tabu atau bahkan dilarang dalam masyarakat religius. Pertemuanku dengan mereka, membukakan mata hati dan nalar pemikiranku, bahwa memang ada yang salah dalam cara masyarakat menjalankan ritual dan keyakinan agama mereka selama ini. Mereka, sebagaimana aku sebelum ini, menjalankan ritual agama lebih karena obsesi pada surga dan rasa takut pada neraka, adanya tekanan dari keluarga dan teman yang lain agar menjadi lebih religius, menguatkan kesan baik dan bersahaja untuk mendapatkan keuntungan dalam posisi pekerjaan maupun status sosial, bahkan tidak sedikit yang menjadikan agama sebagai media baru untuk berdagang dan berpolitik. Ironis, religiusasi masyarakat negeri ini hanya sebatas kosmetik, memberikan kesan agamis pada sesuatu yang ada pada tampak luar mereka, namun spiritualitas dan keimanan pada Tuhan mereka di dalam benak mereka masing – masing, sesungguhnya patut dipertanyakan. Dan pada saat yang sama, semakin lama aku berada di Yogyakarta, gelombang religiusasi masyarakat negeri ini makin kuat pengaruhnya, mencoba mengikis pluralisme dan heterogenitas masyarakat di Yogyakarta. Gelombang itu datang kian deras seiring dengan berkembangnya ekonomi Yogyakarta yang tampak dengan pembangunan pusat perbelanjaan, restoran, sentra dagang, dan hotel – hotel baru yang ironisnya berlawanan dengan semangat ekonomi kerakyatan yang sebelum gelombang ini datang selalu dikampanyekan oleh mahasiswa – mahasiswa. Waktu terus berjalan, aku kembali dari Yogyakarta dengan pandangan tentang agama yang baru, aku memilih pada ideologi sekuler dan pluralisme walaupun aku tahu, ideologi ini tidak akan diterima dalam kehidupan keluarga dan pertemanan sosialku yang justru terbawa oleh arus religiusasi. Bagaimana rasanya hidup menjadi sekularis di tengah – tengah masyarakat yang kian menonjolkan identitas agama ini, tentu jauh dari kata mudah dan menyenangkan. Aku mustahil menyatakan diriku secara terang – terangan sebagai orang yang menganut pembebasan diri dari ikatan – ikatan keyakinan agama kepada mereka, atau jika aku melakukannya, akan membuat diriku semakin terkucil dalam kehidupan sosial dan menyulitkanku untuk mendapat akses dalam pekerjaan maupun hal – hal penting lainnya. Lantas, apa yang kulakukan untuk mempertahankan ideologi dan keyakinan ini dalam arus religiusasi? Aku memilih untuk tetap mempertahankan menjaga ritual agamaku hingga saat ini. Aku tetap menjalankan ritual ibadah lima waktu, walaupun secara frekuensi dan ketepatan waktu tidak lagi seperti sebelum aku mengenyam studi di Yogyakarta. Memasuki putaran hidup yang baru, aku mendapat penempatan kerja di Semarang, kota yang terletak tidak terlalu jauh dari Yogyakarta. Sebelum aku menginjakkan kaki di kota ini, aku sudah tahu bahwa seperti halnya di Yogyakarta dan kota – kota di Jawa Tengah pada umumnya, Semarang juga bukan kota yang terlalu dipengaruhi arus religiusasi, sejak dulu. Aku tidak perlu beradaptasi terlalu lama dengan mereka di Semarang, karena kemiripan budayanya dengan Yogyakarta. Sayangnya, aku tidak cukup lama berdinas di Semarang, hanya enam bulan setelah pertama kali bekerja di Semarang, aku diberi mandat untuk bekerja di Jakarta. Memasuki kehidupan baru di Jakarta, sesuatu yang lebih buruk dari apa yang kualami di Yogyakarta dan Semarang memang sudah kuperkirakan, dan kenyataannya itu memang terjadi. Jakarta, ibukota metropolitan nan megah yang masyarakatnya terdiri dari komposisi suku, ras, agama, dan bangsa yang beraneka ragam, bukanlah kota yang cukup ramah memandang perbedaan – perbedaan itu. Masalah – masalah sosial di Jakarta seperti ketimpangan ekonomi antara kelas bawah dan kelas menengah hingga kelas atas, kepadatan penduduk dan kendaraan bermotor yang tidak terkendali, masifnya pembangunan perkantoran dan pusat perbelanjaan yang tidak diimbangi dengan pembangunan infrastruktur dan sarana transportasi publik untuk memudahkan mobilisasi masyarakat, derasnya budaya konsumerisme yang memotivasi masyarakat untuk membelanjakan uangnya tanpa arah dan guna yang jelas, menciptakan kekosongan spiritualitas dan semangat hidup pada kebanyakan manusia di Jakarta. Kekosongan itu memang diisi dengan arus religiusasi, terlebih Jakarta pun masyarakatnya cenderung didominasi oleh penganut agama mayoritas, menjadikan Jakarta sebagai pasar yang sangat subur untuk menumbuhkan religiusasi agama mayoritas. Hal itu menjadi sesuatu yang bisa kusaksikan dan kualami langsung, di kota besar ini aku harus lebih hati – hati menjaga keyakinan sekuler dan pluralis yang sudah kutanam dalam dasar jiwaku. Jakarta sudah terlanjur dipenuhi dengan mereka yang hanyut dalam arus religiusasi, walau ironisnya identitas keagamaan mereka kurang tampak dalam perilaku sehari – hari, kecuali dari sisi estetika dan ritual sehari – hari belaka. Seperti penganut agama minoritas yang harus hidup dalam masyarakat dengan agama mayoritas yang pengaruhnya amat masif, keteguhan diriku dalam keyakinan sekuler dan pluralis yang ada dalam jiwaku diuji, hingga hari ini. Sejujurnya, aku merasa seperti hidup sebagai manusia abnormal di tengah – tengah masyarakat yang menjunjung religiusitas kosmetik ini, tapi bagaimanapun aku tidak menyesal atau menyalahkan diriku sendiri atas pilihanku untuk tetap menjadi diriku yang seperti ini. Aku, tetap meyakini dari dasar hatiku yang paling dalam, bahwa manusia sejatinya tidak diciptakan Tuhan dengan identitas suku, ras, agama, dan bangsa apapun. Orangtuaku yang memberikan agama padaku, bukan aku yang memintanya pada Mereka. Dan Tuhan yang menggariskan takdir bahwa aku dilahirkan oleh pasangan orangtua yang menganut agama yang sama. Jika aku ditakdirkan terlahir dari pasangan orangtua yang lain dengan identitas agama yang lain, atau bahkan tidak beragama, maka agama yang kuanut akan berbeda dengan agama yang kuanut dalam realita sekarang ini. Aku memang memiliki kewajiban sebagai seorang anak untuk menjaga amanat orangtua agar aku tetap loyal pada agama yang mereka anut. Memang berat, aku harus berpura – pura pada banyak orang, termasuk pada orangtuaku sendiri, tapi bukankah sebuah keteguhan manusia pada idealisme dan ideologi yang dianutnya akan selalu diuji pada saat ia berhadapan dengan sesuatu yang berlawanan dengan apa yang dia anut? Dan itulah yang kuhadapi sekarang. Satu hal yang tidak pernah lepas dariku tentang agama, bahwa walaupun aku tidak terikat lagi pada agama apapun, keyakinanku pada Tuhan, termasuk eksistensi – Nya, tidaklah luntur. Aku meyakini bahwa Tuhan itu eksis, dan semua manusia menyembah pada – Nya serta mengakui eksistensi – Nya, dalam berbagai cara dan keyakinan. Aku percaya Tuhan itu ada di mana – mana dan bisa berwujud apapun, bagi siapapun yang percaya bahwa hidupnya diatur oleh – Nya. Betapapun beratnya menjaga keyakinan itu, aku tidak akan menyerah apalagi terpaksa harus menjadi serupa dengan mereka yang sudah terbawa arus religiusasi yang hanya menyembah Tuhan karena adanya pamrih – pamrih keduniawian. Aku, seorang monotheist. Kepada Tuhan yang kupercaya, aku setia dan meyakini – Mu.
0 Comments
Kaum urban yang terbiasa hidup di ibukota metropolitan, pasti sudah terbiasa melakukan, atau setidaknya, terbiasa melihat kebiasaan menongkrong di coffee shop yang memiliki merk tenar, entah ketenaran merk – nya hanya sebatas ruang lingkup satu kota metropolitan itu sendiri atau hingga seantero dunia. Apapun bisa dilakukan disana sambil menyesap citarasa kopi dari berbagai rasa dan varian biji kopi, yang (katanya) didatangkan dari berbagai negeri penghasil biji kopi terbaik di dunia, dengan kekhasan cita rasa, tekstur dan ukuran biji, serta aromanya masing – masing. Saya sebagai seseorang yang bukan penggemar kopi, memang belum paham apa saja ukuran secangkir kopi bisa dinyatakan enak oleh barista atau penggemar kopi yang lidahnya paling berpengalaman menyeruput kopi rasa apapun, tapi dari sana saya paham, bahwa di balik kenikmatan secangkir kopi, ada nilai ekonomi, sosio – psikologi, bahkan ideologi, sesuatu yang tidak diketahui oleh semua orang yang gemar menyesap kopi.
Katanya, kopi itu minuman paling nikmat di dunia yang bisa dinikmati manusia dari seluruh strata sosial di muka bumi ini. Kenyataannya, itu tidak salah. Mari kita melihat, mulai dari secangkir kopi sachet murahan yang komposisinya hanya ditambahi susu dan gula berkualitas rendah yang bisa dinikmati kuli pabrik dan pegawai sekuriti sebagai teman sejati rokok kretek, atau kopi racikan modifikasi hasil kreasi pengusaha muda kreatif yang harganya terjangkau untuk mahasiswa dan pegawai muda yang masih harus menghitung – hitung pengeluarannya setiap bulan, dan kopi racikan merk waralaba yang gerainya ada di hampir seluruh negara dan biasa dinikmati kaum sosialita menengah ke atas sebagai pelengkap pertemuan dengan teman kerja atau menyendiri, hingga kopi hasil ketekunan tangan seorang barista terbaik dengan bahan biji kopi yang (katanya) terbaik dari yang pernah ada, yang mungkin hanya dijajakan di gerai kopi high – end dan hanya dinikmati kaum antusias kopi yang tidak pernah memikirkan nilai uang demi secangkir kopi terbaik. Itulah kopi, minuman yang setia menempati hati banyak kalangan. Kopi memang bukan hanya secangkir minuman. Lebih dari itu, kopi telah menjadi komoditas yang dinikmati semua kalangan orang tanpa memandang latar belakang, status, pekerjaan, dan identitas lainnya. Tidak ada minuman lain yang begitu fleksibel penyajiannya dan mampu diterima orang dari banyak kalangan, selain kopi. Sayangnya, banyak diantara kita yang sudah terbiasa meminum kopi, tidak menyadari atau enggan mengetahui suatu hal, bahwa di balik secangkir kopi yang kita nikmati, ada cerita tentang prestise, seni, ide kewirausahaan, nilai ekonomi, gaya hidup, hingga keadilan sosial. Benarkah demikian? Ada sebuah cerita (ini bukan cerita yang diungkapkan berdasarkan pengalaman saya, saya hanya mengutipnya dengan sedikit perubahan dari cerita penulis lain), seorang laki – laki yang sedang dalam perjalanan jauh di Pesisir Utara Jawa, memutuskan beristirahat di sebuah gerai kopi. Gerai kopi itu memang bukan Starbucks atau The Coffee Bean and Tea Leaf yang biasa beredar di mall kota – kota besar, tapi kenyataabnya gerai kopi itu tidak bisa dibilang tidak laku, karena banyak orang yang melewati jalan datang dan pergi untuk beristirahat sembari menikmati kopi yang disediakan disana. Entah karena suatu kebetulan atau memang sudah menjadi pertemuan yang ditakdirkan, ia bertemu dengan pemilik gerai kopi yang kalau dikatakan generasi muda sekarang ini, instagramable sekali, dan mengobrol tentang apa saja termasuk tentang gayanya menjalankan bisnis gerai kopi tersebut. Si empu gerai kopi mengajak laki – laki itu memandang pemandangan di sisi timur, dari tempat mereka duduk. Pemandangan pantai yang indah, diisi oleh perahu – perahu nelayan yang berjejer rapi di tepi pantai dengan sinar matahari yang sama sekali tak terhalang awan, nyaris tak terlihat sampah atau lautan manusia yang biasa terlihat di pantai – pantai daerah tujuan wisata, menjadikan nilai jual tambah bagi gerai kopi tersebut, dan bisa disaksikan langsung oleh pengunjung tanpa dikenai biaya tambahan. Nilai jual lebih itulah yang dikatakan sang empunya gerai kopi ini sebagai media pemikat bagi siapapun yang melewati Jalur Pantura untuk berkunjung ke gerainya. Si empu gerai meneruskan ungkapan tentang rahasia di balik kesuksesan bisnis kopinya, bahwa masyarakat kini tidak lagi menikmati kopi hanya karena sekedar melepas rasa haus dan dahaga. Lebih dari itu, masyarakat penikmat kopi sekarang menyukai saat – saat menikmati kopi dengan cara yang menyenangkan dan “benar.” Kata “benar” disini ditafsirkan oleh si empu gerai bahwa kopi sejatinya bukanlah secangkir minuman yang dinikmati dalam tempo cepat untuk mengembalikan tenaga dan menetralisir dahaga penikmatnya. Kopi dinikmati dengan cara dihisap pelan – pelan, untuk dapat dirasakan keaslian cita rasa biji kopinya, dan agar kandungan kafein yang ada di dalamnya betul – betul menenangkan sang penikmat kopi. Tentu saja si empu gerai juga sudah tahu, bahwa setiap pelanggan memiliki selera dan preferensi yang berbeda – beda, termasuk menambahkan kudapan enak seperti aneka gorengan atau snack ala barat seperti french fries dan sosis bakar. Maka dari itu, si empu kopi juga menyediakan berbagai menu kudapan tersebut sebagai teman menikmati kopi yang pas untuk selera semua pelanggan. Lantas, bagaimana dengan pelanggan yang ingin menikmati sesuatu di gerainya namun tidak bisa menikmati kopi dengan alasan tubuhnya tidak bisa menerima kopi atau seleranya bukan ada pada kopi? Jangan khawatir, kata sang empu, ia pun menyediakan minuman jenis lain seperti teh, jus, dan susu dengan aneka rasa yang tidak kalah beragam, walau keberadaan menu makanan kecil dan minuman itu agak mengurangi citra gerainya sebagai gerai spesialis kopi. Interior dan eksterior gerainya pun didesain tidak main – main, siapapun arsitek yang mendesain dan membangun gerai kopi itu, bisa dikatakan sangat brilian. Alih – alih bangunan gerai itu didesain bergaya gerai kopi ala Eropa Barat yang banyak menggunakan ornamen kayu, si empu gerai memilih desain gerai yang memadukan arsitektur asli selayaknya rumah – rumah penduduk lokal di tepi pantai, namun tidak membuatnya terlihat “kampungan” atau mencolok di tengah – tengah rumah penduduk dan bangunan lain di sekitarnya. Begitulah contoh kecil dari “ekploitasi” kopi sebagai komoditas yang bernilai tinggi bagi siapapun yang mengabdikan hidupnya untuk berbisnis. Di suatu tempat di Pantai Utara Jawa itu, sebuah gerai kopi menunjukkan bagaimana modal bekerja memanfaatkan rasa haus dan kejenuhan pengendara di jalur pantura. Kopi, bukan lagi hanya secangkir minuman yang dibuat dari hasil jerih payah petani perkebunan dan racikan tangan seorang barista. Lebih dari itu, kopi telah menjadi komoditas dagang yang tidak pernah mengenal musim dan zaman. Karena kenikmatannya yang abadi dan bisa diterima hampir semua manusia, maka tak pelak ia menjadi bagian dari gaya hidup manusia, tanpa mengenal kasta ekonomi dan sosial. Kopi hadir mulai dari warung kaki lima yang hanya memiliki pelanggan buruh dan petani yang bekerja tak jauh dari warung tersebut hingga restoran kelas atas di hotel bintang lima yang hanya bisa dikunjungi sosialita tenar. Begitu populisnya kopi, maka kopi pun menjadi material yang bagus bagi kaum pemilik modal sebagai barang dagangan mereka. Dan pada hakikatnya, yang memiliki modal memang memiliki kekuatan untuk mendesain suatu barang menjadi seperti apa agar laris dikonsumsi masyarakat, bahkan mengubah hasrat manusia terhadap suatu barang dari kebutuhan menjadi keinginan. Mungkin kita tidak pernah sadar, bahwa awalnya kita meminum kopi di pagi atau malam hari karena kita sadar akan khasiatnya untuk memberikan daya tahan pada tubuh dari rasa kantuk, akan tetapi dalam perkembanggannya, sebuah coffee shop yang dikelola oleh seorang pemilik modal dengan desain gerai yang bernuansa Barat klasik dengan berbagai pilihan menu kopi berkelas yang katanya diolah dari biji kopi berkualitas terbaik hasil kerja petani perkebunan yang bekerja dengan tekun dan bahagia, mampu mempengaruhi keyakinan diri kita bahwa menikmati kopi dengan gaya yang bisa menarik perhatian banyak orang, adalah sebuah keinginan. Meskipun kita sadar bahwa ketika kita masuk ke dalam Starbucks atau The Coffee Bean and Tea Leaf dan membeli secangkir kopi di sana dengan harga yang lebih mahal daripada sepiring makan siang lengkap di foodcourt atau fastfood ternama, kita akan tetap berusaha membeli dan menikmatinya. Persis seperti yang dikatakan Tim Harford, penulis buku The Undercover Economist, bahwa kekuatan pemilik modal menciptakan self incrimination (perasaan merasa bersalah). Ketika kita masuk ke dalam sebuah coffee shop bermerek terkenal, alam bawah sadar kita memaksa untuk mengaku pada diri sendiri bahwa kita tidak mempermasalahkan harga yang terlalu mahal dari sebuah kopi yang kita beli tersebut. Di balik kenikmatan secangkir kopi itu, sepertinya hanya sedikit dari pelanggan kopi yang tahu, bahwa upah yang diberikan oleh buruh tani kopi dan barista untuk membuat kopi – kopi itu bisa dinikmati pelanggan kopi siapa saja dan dari mana saja mereka berasal, tidak sebanding dengan usaha keras dan kepenatan kerja mereka. Ironisnya, saya menulis catatan ini pada saat saya sedang menongkrong sendiri di sebuah gerai kopi yang dinikmati kaum kelas menengah Jakarta itu sambil menikmati salah satu kopi racikan mereka, saat saya mencoba menjadi salah satu bagian dari kaum kelas menengah ibukota yang entah tahu apa soal pahit getirnya orang – orang yang berusaha menyajikan kopi di meja tempat saya berada sekarang ini, untuk sesuatu hal yang dianggap pemilik modal sebagai “kesuksesan” mereka dan “kenikmatan semu” yang dialami oleh saya dan mereka tersebut. Manusia itu hidup dengan berbagai kemauan dan ambisi, Karena sejatinya Tuhan memang sudah menanamkan naluri untuk belajar dan mencapai kemajuan dalam setiap benak – benak manusia.Menginginkan sesuatu yang belum dimiliki sebelumnya, bukanlah dosa. Justru berkat adanya kemauan untuk memiliki sesuatu yang belum dimiliki, atau mendapatkan sesuatu yang lebih baik dari apa yang sudah dimiliki, manusia terus berevolusi dan menciptakan sejarah peradabannya sendiri. Kemajuan teknologi komputasi, pemikiran – pemikiran baru di bidang ilmu sosial yang memunculkan paradigma berpikir masyarakat yang belum terpikir sebelumnya, pembuktian ideologi baru, perkembangan teknologi informasi yang menciptakan jaringan komunikasi tanpa dihalangi perbatasan, perencanaan hunian manusia yang kian memanusiakan manusia, penemuan di bidang teknologi pertanian dan farmasi yang terus berusaha menyehatkan manusia, dan teori – teori ekonomi baru yang terus berkembang seiring dengan kebutuhan dan keinginan manusia akan materi yang tidak pernah ada batasnya.
Didasari atas keyakinan bahwa kemajuan dalam segala hal akan memberikan kebaikan terus – menerus bagi mereka, manusia terus berusaha mengembangkan kemakmuran, kecerdasan, dan kekuatan yang mereka miliki untuk mencapai level kehidupan yang baru. Hampir semua manusia percaya, bahwa kemajuan adalah jalan hidup, cita – cita, dan harapan, yang kemudian tumbuh menjadi keyakinan, bahwa kemajuan harus dicapai atau mereka akan menemui kekalahan dan mempercepat datangnya ajal mereka sendiri. Keyakinan itulah yang kemudian menumbuhkan naluri hitam dalam diri manusia : Naluri untuk maju, berusaha, bersaing dengan yang lain, yang selanjutnya membawa mereka pada risiko untuk saling berprasangka buruk, membenci, berperang, dan bahkan membunuh satu sama lain. Tanpa mengesampingkan risiko dari usaha mereka mencapai kemajuan itu, manusia tetap melangkah maju, tak pernah mengenal jera dan menyesal, dan tak pernah sungguh – sungguh belajar dari kegagalan dan kekacauan yang mereka peroleh dari ambisi mereka sendiri. Mengingkan sesuatu atau seseorang di luar diri kita sendiri itu manusiawi, kita tidak perlu menolak eksistensi naluri itu dari dalam diri kita, apalagi mencoba untuk membuangnya dari diri, kecuali jika kita cukup kuat untuk hidup menjauhkan diri dari kehidupan duniawi. Namun, tidak semua manusia cukup kuat untuk hidup dalam kemurnian jiwa seperti itu. Jika menjalani hidup yang wajar dalam kehidupan sosial seperti hari – hari yang telah kita lalui sampai sekarang ini adalah takdir kita, mengapa kita tidak mencoba untuk tidak terlalu banyak menaruh keinginan apapun dalam hidup? Mencukupkan diri dengan batasan apa yang hanya kita butuhkan dan sungguh - sungguh kita inginkan? |
Aditya RenaldiKolom tempat saya bercerita, mendongeng, berbagi. Tempat kita saling mengenal dan berkomunikasi. Archives
November 2025
Categories |